Riba bukan sekadar urusan ekonomi. Ia adalah urusan keimanan. Dalam Islam, riba termasuk dosa besar yang tidak hanya merusak sistem keuangan, tapi juga menghancurkan keberkahan hidup dan nurani manusia.

 

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 278–279:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu benar-benar beriman. Maka jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…”

 

Ayat ini luar biasa keras. Tidak ada dosa lain dalam Al-Qur’an yang disebut secara terang sebagai perang melawan Allah dan Rasul-Nya, selain riba. Artinya, siapa pun yang masih menjalankan riba — sadar atau tidak — sedang menantang kekuasaan Tuhan secara langsung.

🌿 Riba, Dosa yang Terbungkus Rapi

 

Masalahnya, riba kini sering datang dengan wajah lembut: bunga bank, cicilan ringan, pinjaman online, hingga sistem kredit “tanpa riba” yang ternyata hanya ganti nama. Semua tampak normal, bahkan dianggap modern.
Namun di balik semua itu, ada sistem yang menjadikan orang hidup dari utang, bukan dari keberkahan.

 

Banyak orang menganggap riba sekadar kesalahan kecil, padahal Rasulullah ﷺ menyebutnya dosa besar yang efeknya seperti menodai seluruh amal. Dalam hadits (HR. Ibnu Majah), beliau bersabda:

“Riba memiliki tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan, seperti dosa seseorang yang berzina dengan ibunya.”

 

Perbandingan yang sangat keras ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengguncang kesadaran manusia. Jika berzina saja dianggap kehinaan besar, bagaimana mungkin seseorang berani memelihara sistem yang Allah sendiri umumkan perang terhadapnya?

⚖️ Riba dan Durhaka: Dua Jalan yang Sama Gelap

 

Banyak ulama menggambarkan dosa riba hampir sebanding dengan durhaka kepada orang tua.
Bedanya, durhaka kepada orang tua berarti melawan yang melahirkanmu, sementara riba berarti melawan yang menciptakanmu.
Melawan orang tua bisa membuat hidup tidak tenang, tapi melawan Allah berarti mengundang murka yang jauh lebih berat — bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

 

Tak heran, banyak orang yang hartanya tampak banyak tapi selalu habis, usahanya besar tapi selalu gagal. Karena keberkahan bukan soal angka, tapi soal ridha. Dan ridha tidak datang dari harta yang mengandung riba.

💔 Ketika Doa Tak Lagi Didengar

 

Banyak yang heran, “Mengapa doa saya tidak terkabul padahal saya rajin salat?”
Salah satu sebabnya bisa jadi karena makanan, pakaian, atau rumahnya berasal dari riba. Rasulullah ﷺ bersabda (HR. Muslim):

“Seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut, penuh debu, menengadahkan tangan ke langit dan berdoa, ‘Ya Rabb, Ya Rabb!’ Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan?”

🌸 Jalan Keluar: Tobat dan Keberanian

 

Islam tidak menutup jalan bagi siapa pun yang terlanjur. Allah Maha Pengampun. Tetapi pengampunan itu tidak datang tanpa langkah nyata.
Tinggalkan riba sekecil apa pun bentuknya. Tutup cicilan berbunga, hindari pinjaman yang menjerat, dan niatkan untuk memperbaiki cara hidup.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa bertobat dari riba, maka baginya pokok hartanya; ia tidak menzalimi dan tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 279)

 

Artinya, Allah masih memberikan kesempatan untuk kembali bersih — tapi hanya jika berani berhenti.

🌿 Penutup: Pilihan Ada di Hati

 

Riba adalah ujian zaman modern. Ia bisa datang lewat kenyamanan, penawaran menarik, atau gaya hidup “biar sama seperti orang lain.”
Namun di balik semua itu, Allah memberi peringatan keras agar kita sadar: keberkahan tidak datang dari angka, tapi dari kejujuran dan taat pada aturan-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *