Dalam kehidupan sehari-hari, kata “adab” sering digunakan untuk menggambarkan sikap hormat, sopan, dan santun. Namun dalam praktiknya, banyak orang mencampuradukkan antara adab dengan feodalisme dan sifat penjilat. Akibatnya, aturan moral dan etika yang mestinya mengangkat martabat manusia, justru berubah menjadi budaya yang menindas, mengekang, atau merusak.

Tulisan ini membahas perbedaan mendasar antara ketiganya. Meski tampak mirip pada permukaan — sama-sama bicara soal “hormat” — hakikatnya sangat berbeda. Bahkan, ketiganya memiliki dasar nilai, tujuan, dan konsekuensi yang bertolak belakang.

1. ADAB: Sikap Mulia yang Diatur oleh Agama dan Akhlak

Adab adalah konsep yang sangat kuat dalam Islam. Rasulullah ﷺ bahkan dikenal sebagai “manusia dengan akhlak paling sempurna”, dan salah satu inti ajarannya adalah adab: mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, bahkan dengan diri sendiri.

A. Adab dalam Islam bersumber dari nilai, bukan status

Adab mengajarkan:

  • sopan kepada orang tua,

  • menghormati guru,

  • menghargai sesama manusia,

  • tidak menyakiti,

  • berkata yang baik,

  • jujur dan tidak curang,

  • mengoreksi kesalahan dengan cara lembut.

Yang dihormati dalam adab bukanlah “orang berkedudukan tinggi”, tetapi:

  • yang lebih tua,

  • lebih berilmu,

  • lebih berakhlak,

  • lebih amanah,

  • dan yang benar.

Dalam adab Islam, seseorang tetap boleh (bahkan wajib) menegur siapa pun yang salah. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Agama adalah nasihat.”

Artinya, adab tidak memaksa seseorang untuk membiarkan kesalahan demi menjaga perasaan atau status seseorang.

B. Adab tidak pernah membuat seseorang menjadi budak manusia

Adab menjaga martabat kita, bukan merendahkan martabat kita.

Adab bukan:

  • memuji berlebihan,

  • tunduk membabi buta,

  • diam saat melihat kezaliman,

  • tidak berani menegur orang berpengaruh.

Adab yang benar melahirkan keberanian moral.

C. Adab melahirkan lingkungan yang sehat

Ketika adab ditegakkan:

  • hubungan atasan dan bawahan saling menghormati,

  • kritik diterima sebagai bentuk kepedulian,

  • anak menghormati orang tua tanpa kehilangan hak bicara,

  • bawahan menghormati pimpinan tanpa merasa tertindas.

Adab menghasilkan keadilan, keseimbangan, dan keberkahan.

2. FEODALISME: Budaya Tunduk Berlebihan kepada Kekuasaan

Berbeda dengan adab, feodalisme muncul dari sistem sosial masa kerajaan, di mana orang yang punya jabatan harus diperlakukan layaknya raja kecil. Dalam budaya feodal, status lebih penting daripada akhlak atau kebenaran.

A. Feodalisme memuja status, bukan moral

Ciri-cirinya:

  • atasan selalu benar,

  • bawahan tidak boleh mengkritik,

  • hormat diberikan karena jabatan, bukan kebaikan,

  • keputusan ditentukan oleh kedekatan, bukan kinerja,

  • yang salah menjadi benar jika dilakukan orang berkuasa.

Feodalisme membuat hirarki yang kaku, sehingga orang yang berada di bawah merasa tidak punya suara, meski yang di atas jelas-jelas salah.

B. Feodalisme melahirkan rasa takut, bukan rasa hormat

Di lingkungan feodal:

  • bawahan takut berbicara,

  • orang pintar tidak berani mengoreksi,

  • orang jujur tersingkir,

  • orang yang berani berkata jujur dianggap kurang ajar.

Yang muncul bukan hubungan “hormat”,
tetapi hubungan “takut kehilangan posisi”.

C. Feodalisme bertentangan dengan Islam

Islam mengajarkan:

  • pemimpin adalah pelayan umat,

  • pemimpin harus mendengar kritik,

  • pemimpin wajib adil,

  • kebenaran lebih tinggi daripada jabatan.

Rasulullah ﷺ pernah berkata:

“Pemimpin kalian adalah yang terbaik akhlaknya.”

Feodalisme merusak prinsip kepemimpinan Islam.

Islam mengajarkan:

  • pemimpin adalah pelayan umat,

  • pemimpin harus mendengar kritik,

  • pemimpin wajib adil,

  • kebenaran lebih tinggi daripada jabatan.

Rasulullah ﷺ pernah berkata:

“Pemimpin kalian adalah yang terbaik akhlaknya.”

Feodalisme merusak prinsip kepemimpinan Islam.

3. PENJILAT: Sifat Individu yang Mencari Manfaat Pribadi

Jika feodalisme adalah sistem, maka penjilat adalah gaya hidup dan sifat buruk individu.

Penjilat bukan menghormati atasan,
melainkan menjilat demi keuntungan, seperti jabatan, perlindungan, atau uang.

A. Ciri-ciri penjilat:

  • memuji berlebihan,

  • bersikap manis di depan dan buruk di belakang,

  • membenarkan yang salah demi kepentingan diri,

  • mengorbankan prinsip untuk mendapat perhatian atasan,

  • berubah-ubah tergantung siapa yang menguntungkan.

Ini bukan adab.
Ini bukan hormat.
Ini manipulasi.

B. Penjilat merusak lingkungan kerja dan lembaga

  • Jika penjilat dibiarkan hidup subur:

    • orang baik tersingkir,

    • atasan tidak mendapatkan informasi jujur,

    • keputusan organisasi kacau,

    • kinerja turun,

    • lingkungan penuh intrik.

    Dalam Islam, sifat penjilat telah jelas dikecam.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Celakalah orang-orang yang suka memuji berlebihan.”

    Karena pujian palsu merusak keadilan dan menumbuhkan kesombongan.

4. KESAMAAN KETIGANYA (dan di sinilah orang sering salah paham)

  • Meski berbeda, ketiganya punya satu titik yang tampak “mirip”:
    semua berbicara soal menghormati orang lain.

    Ini yang membuat orang salah mengira bahwa:

    • tunduk kepada atasan = adab

    • memuji pimpinan = adab

    • tidak berani kritik = adab

    • menutup mulut ketika melihat salah = adab

    Padahal itu bukan adab, tapi:

    • feodalisme

    • penjilatan

    • atau ketakutan

    • atau budaya salah kaprah

    Adab justru memberi keberanian untuk berkata jujur dengan cara yang sopan.

5. PERBEDAAN UTAMA YANG MENENTUKAN

  • 1. Sumbernya:

    • Adab: berasal dari agama, akhlak, dan nilai.

    • Feodalisme: berasal dari struktur kekuasaan.

    • Penjilat: berasal dari sifat buruk individu.

    2. Tujuannya:

    • Adab: menebarkan kebaikan dan keadilan.

    • Feodalisme: melanggengkan kekuasaan.

    • Penjilat: mencari keuntungan pribadi.

    3. Dampaknya:

    • Adab: membuat lingkungan sehat dan saling menghormati.

    • Feodalisme: membuat lingkungan menindas dan tidak adil.

    • Penjilat: membuat lingkungan penuh kebohongan dan intrik.

6. KESIMPULAN BESAR:

  • Adab itu indah.
    Feodalisme itu menekan.
    Penjilat itu merusak.

    Adab menjaga kehormatan orang lain tanpa mengorbankan prinsip.
    Feodalisme mengorbankan prinsip demi status.
    Penjilat mengorbankan prinsip demi keuntungan.

    Itulah sebabnya kita harus bijak:
    Mempertahankan adab yang benar,
    menolak budaya feodal,
    dan menjauhi sifat penjilat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *